Prof. Tim Lindsey: Revolusi di Peradilan Agama
Jakarta [13/5]. Prof. Tim Lindsey, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Melbourne, Australia, kembali bertandangke Badilag pada Jumat (13/5/2011). Ia disambut hangat oleh Dirjen Badilag, Wahyu Widiana, di ruang kerjanya di lantai 6 Gedung Sekretariat MA.
Kedatangan Tim Lindsey tersebut dalam rangka mendiskusikan beberapa hal terkait program-program Badilag dan peradilan agama di Indonesia, terutama yang berkaitan dengan ketertarikan dirinya sebagai akademisi dan peneliti.
“Sebagai peneliti dan akademisi saya selalu tertarik melakukan penelitian tentang perkembangan peradilan agama,” ujar Tim--sapaan akrab Prof. Tim Lindsey.
Tim yang juga suami dari Julia Suryakusuma seorang penulis buku dan kolumnis produktif ini bercerita lebih jauh tentang ketertarikannya pada dunia hukum di Indonesia, terutama peradilan agama.

Prof. Tim Lindsey bersama Dirjen Badilag Wahyu Widiana, didampingi dua staf khusus Dirjen Badilag, Achmad Cholil dan Rahmat Arijaya.
“Saya ingat pertama kali mengikuti sidang di salah satu pengadilan agama sekitar tahun 1995-an. Waktu itu kesan saya pengadilan agama masih primitif dan terbelakang. Selain tempatnya yang sempit, kondisinya juga sangat memprihatinkan,” cerita Tim.
“Pada tahun 2000an saya mulai aktif melakukan penelitian lebih mendalam. Dan apa yang terjadi di peradilan agama sejak tahun 2005 adalah sebuah revolusi,” lanjut professor yang lancar berbahasa Indonesia ini.
Tim menyebut perhatian peradilan agama terhadap akses keadilan, banyaknya gedung yang berdiri megah, sistem pelayanan publik, dan pemanfaatan teknologi informasi di peradilan agama mampu mengubah citra peradilan agama.
Menanggapi hal tersebut, Dirjen menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang tinggi atas perhatian Prof. Tim kepada peradilan agama. “Apa yang pak Tim dan kawan-kawan dari Australia lakukan selama ini telah memberikan sumbangsih yang positif bagi peradilan agama,” kata Dirjen.
“Contohnya buku Pak Tim “Courting Reform” itu. Buku tersebut mampu membangkitkan kepercayaan diri dan semangat warga peradilan agama. Tapi saya sudah mewanti-wanti kepada semua pejabat dan pegawai peradilan agama untuk tidak arogan. Saya selalu peringatkan untuk bekerja terus memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat," imbuh Dirjen.
Di akhir kunjungan, Tim Lindsey memberikan hadiah berupa dua buah buku kepada Dirjen. Satu buku berjudul “Indonesia; Law and Society“ yang merupakan karya Tim sendiri dan satunya lagi berjudul “Jihad Julia“ karya isteri Tim, Julia Suryakusuma, yang merupakan orang Indonesia asli.
(Arijaya/Cho)
Sumber: http://badilag.mahkamahagung.go.id
| Comments |
|
!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."
Pemutakhiran Terakhir (Kamis, 26 Mei 2011 16:05)




























